NON DESTRUCTIVE TESTING ( PENGUJIAN TAK MERUSAK ) MAGNETIC PARTICLE INSPECTION

Posted: Juni 25, 2011 in LAPORAN FT UNTIRTA

LAPORAN PRAKTIKUM NON DESTRUCTIVE TESTING ( NDT )

MAGNETIC PARTICLE INSPECTION

Disusun oleh

NAMA                          : AHMADI RAFE’I

NPM                               : 3331101530

KELOMPOK                      : C10

TGL PERCOBAAN            : 9 JUNI 2011

LABORATORIUM NON DESTRUCTIVE TESTING ( NDT )

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN

CILEGON – BANTEN

2011

_________________________________________________________________________________________

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur khadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Ridho-NYA sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan Non Destructive Test (NDT) ini tanpa halangan suatu apapun.

Makalah ini berisi tentang pengujian NDT dengan menggunakan metode Magnetic Particle Inspection dan menggunakan tiga metode Magnetic Particle Inspection yaitu Dry Visible, Wet Visible dan Wet Fluorescent. Makalah ini di buat berdasarkan hasil praktek yang telah di lakukan pada hari sebelum nya.

Penulis mengucapkan Terima kasih kepada Assisten laboratorium NDT yang telah membantu praktikan dalam pengujian NDT. Selain itu penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat di harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya dan bagi penulis pada khususya.

Wasalamu’alaikum Wr.Wb

Cilegon,   Mei 2011

Penulis

Halaman

                                                     

       DAFTAR ISI                             

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………………………………………………..  i

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………………………………..  ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………………………………………..  iii

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………………………………………………………………………………  V

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang praktikum……………………………………………………………………………………………………………………….. 1

1.2  Tujuan praktikum…………………………………………………………………………………………………………………………………. 1

1.3  Batasan masalah…………………………………………………………………………………………………………………………………….. 2

1.4  Sistematika penulisan…………………………………………………………………………………………………………………………….. 2

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum MPI………………………………………………………………………………………………………………………………….  4

2.2 Klasifikasi metode MPI…………………………………………………………………………………………………………………………. 14

2.2.1 MPI Dray Visible……………………………………………………………………………………………………………………………….. 14

2.2.2 MPI Wet Visible………………………………………………………………………………………………………………………………… 16

2.2.3 MPI Wet Fluorescent……………………………………………………………………………………………………………………….. 17

BAB III METODE PENGUJIAN

3.1 Instalasi pengujian……………………………………………………………………………………………………………………………….. 18

3.2 Prosedur pengujian……………………………………………………………………………………………………………………………… 18

3.2.1 Prosedur pengujian MPI Dry Visible……………………………………………………………………………………………………  18

3.2.2 Prosedur pengujian MPI Wet Visible……………………………………………………………………………………………………. 19

3.2.3 Prosedur Pengujian MPI Wet Fluorescent……………………………………………………………………………………………. 20

BAB IV ANALISIS HASIL PENGUJIAN

4.1 Sketsa hasil pengujian……………………………………………………………………………………………………………………………  22

4.2 Analisis jenis cacat………………………………………………………………………………………………………………………………  23

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………………………………………….. 24

5.2 Saran………………………………………………………………………………………………………………………………………………. 25

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Dokumentasi praktikum

Halaman

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Arah medan magnet terpotong oleh retakan………………………………………………………………………………….. 4

Gambar 1.2 Sifat elektromagnetik………………………………………………………………………………………………………………….. 7

Gambar 1.3 Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus……………………………………………………………. 8

Gambar 1.4 Prinsip putaran sekrup……………………………………………………………………………………………………………….. 8

Gambar 1.5 Elektromagnetik sekeliling kawat………………………………………………………………………………………………….. 9

Gambar 1.6 Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet………………………………………………………………………  10

Gambar 1.7 Belitan kawat membentuk kutub magnet……………………………………………………………………………………….. 10

Gambar 1.8 skema metode magnetic particle……………………………………………………………………………………………………. 11

Gambar 1.9 Pengujian logam dengan metode Dry Visible…………………………………………………………………………………..  15

Gambar 2.0 Pengujian logam dengan metode Wet Visible………………………………………………………………………………….. 17

Gambar 2.1 Pengujian logam dengan metode Wet Florescent…………………………………………………………………………….. 17

Gambar 2.2  Cacat retakan pada Las-an……………………………………………………………………………………………………………. 23

Gambar 2.3 Benda uji……………………………………………………………………………………………………………………………………..  27

Gambar 2.4 Alat kalibrasi Yoke……………………………………………………………………………………………………………………….  27

Gambar 2.5 Hasil dari pengujian………………………………………………………………………………………………………………………  28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang praktikum

Sekarang ini kebutuhan akan logam yang berkualitas pada Industir-industri permesinan sangat di butuhkan untuk pembuatan alat-alat penunjang yang di butuhkan oleh manusia.

Hampir dari semua hal ciptaan manusia di dominasi oleh logam, mulai dari mobil, sepeda, sepeda motor, jembatan dan lain sebagainya. Tentu saja logam yang di gunakan bukanlah satu jenis logam saja melainkan dari banyak jenis logam. Selain pemilhan jenis logam yang di gunakan, produsen-produsen pengguna logam juga harus memikirkan bagaimana kualitas dari logam tersebut, apakah logam itu akan mampu menahan beban yang akan diberikan. Oleh karena itu sebuah logam pasti melalui proses Quality Control (QC) atau uji kelayakan sebelum di pasarkan.

Dalam pengujian sebuah logam kita harus memahami metode-motode yang di gunakan, salah satunya dengan cara Non destructive test ( pengujian tak merusak ) yang didalamnya terdapat metode Magnetic particle inspection. Pengujian ini akan mengetahui cacat atau tidaknya sebuah logam. Logam akan di uji dengan menggunakan tiga metode dari metode Magnetic particle yaitu metode Dry particle, Wet particle, dan Wet Fluorescent.

1.2 Tujuan praktikum

Untuk mengetahui cacat pada sebuah benda kerja dengan menggunakan metode Magnetic particle inspection (MPI).

1.3 Batasan masalah

Seperti kita ketahui bersama untuk mengetahui cacat tidaknya sebuah benda kerja kita harus melakukan pengujian terhadap benda kerja tersebut. Banyak metode yang bisa di gunakan dalam pengujian sebuah benda kerja, salahsatunya dengan metode Magnetic particle inspection.

Metode Magnetic particle inspection adalah metode dengan bantuan magnet dan serbuk besi. Metode MPI bisa di gunakan untuk mengetahui cacat yang terdapat di permukaan sebuah benda kerja, cacat bisa berupa retakan, patahan, dan lubang. Namun metode ini masih terdapat kelemahan diantaranya adalah hanya bisa di terapkan pada benda yg bersifat feromagnet, dan hanya bisa mendeteksi cacat pada permukaan benda kerja saja.

1.4 Sistemtika penulisan

Aadapun sistematika penulisan laporan ini adalah :

BAB I PENDAHULUAN

BAB ini berisi tentang latar belakang praktikum, tujuan praktikum, basatan masalah dan sistematika penulisan laporan.

 BAB II LANDASAN TEORI

BAB ini berisi tentang teori umum MPI dan klasifikasi metode MPI yang terdiri dari Dry visible, Wet visible dan Wet Fluorescent.

 BAB III METODE PENGUJIAN

BAB ini berisi tentang instalasi pengujian dan prosedur pengujian yang terdiri dari tiga prosedur pengujian yaitu Prosedur pengujian MPI Dry visible, Prosedur pengujian MPI Wet visible, dan prosedur pengujian MPI Wet Fluorescent.

 BAB IV ANALISIS HASIL PENGUJIAN

 BAB ini berisi tentang Sketsa hasil pengujian dan analisi jenis cacat.

 

BAB V PENUTUP

BAB ini berisi kesimpulan dan saran dari laporan.

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

            Dokumentasi praktikum


__________________________________________________________________________________

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum MPI

Pengujian terhadap sebuah benda kerja dengan menggunakan metode MPI adalah dengan meggunakan prinsip dasar magnet. Sebuah medan magnet selalu menunjukan gejala yang sama yaitu arah medan magnet selalu bergerak dari kutub utara menuju kutub selatan ( diluar magnet ). Dengan prinsip dasar inilah kita bisa gunakan untuk menguji logam yang bersifat ferromagnet.

Magnet merupakan suatu logam yang dapat menarik besi, dan selalu memiliiki dua kutub yaitu kutub selatan dan kutub utara. Dimana arah medan magnet disetiap titik bersumber dari kutub utara menuju ke selatan dan mengarah dari kutub selatan ke kutub utara didalam magnet.

Prinsip kerja dari Magnetic Particle Inspection ( MPI ) adalah dengan memagnetisasi benda yang di inspeksi yaidu dengan cara mengalirkan arus listrik dalam bahan yangg di inspeksi. Ketika terdapat cacat peda benda uji maka arah medan magnet akan berbelok sehingga terjadi kebocoran dalam flux magnetic. Bocoran flux magnetic akan menarik butir-butir ferromagnetic di permukaan sehingga lokasi cacat dapat di tunjukan

Gb.1.1 Arah medan magnet terpotong oleh retakan

Jenis-jenis magnet

Magnet mendapat nama dari suatu tempat di Yunani yang bernama Magnesia. Mineral yang ditambang di kawasan ini dinamakan Magnetite. Oleh karena itu, nama itu diturunkan menjadi ‘magnet’. Orang Yunani menyebutnya Magnetic, atau Magnetos. Orang Inggris menyebutnya Lodestone karena sifatnya yang selalu menujuk ke arah Utara dan oleh karena itu dapat dipakai sebagai pedoman arah. Orang Prancis menyebutnya Ament atau Batu yang Bercinta, sementara orangIndia menyebutnya Chumbak, batu yang berciuman. Orang Tionghoa juga mengartikan Chu She. Nama-nama ini menunjukan pada sifat gaya tarik-menarik dari batu ini.

Batu magnet yang ditemukan dalam bahan tambang adalah Feri Oksida (FeO). Dari bahan ini, disiapkan magnet buatan. Magnet buatan ini disiapkan dengan tiga macam metode.

  • Magnet alam digosok pada bahan magnet, sebagai hasilnya-bahan itu bersifat magnet namun dengan daya yang lemah.
  • Dalam metode membuat magnet dengan menggunakan listrik, kawat yang terbungkus isolasi digulungkan mengelilingi sebuah bahan magnet dan arus listrik dialirkan melewati kumparan ini. untuk periode waktu yang berbeda guna memperoleh kekuatan berbeda. Proses ini menghasilkan magnet yang lebih kuat.
  • Ilmuwan merancang mesin yang disebut Magnetiser. yang mengubah bahan magnet menjadi magnet tanpa menggunakan kawat. Mesin ini umum digunakan dewasa ini untuk membuat magnet buatan dan magnet untuk menyembuhkan.
  1. A.    Magnet permanen

Merupakan bahan-bahan logam tertentu yang jika di magnetisasi maka bahan logam tersebut akan mampu mempertahankan sifat magnetnya dalam jangka waktu yang lama ( permanen)

Secara umum magnet permanent terbagi atas 4 jenis, yaitu:

1. Ceramic or Ferrite

Jenis magnet ini dapat ditemukan dimana saja khususnya dalam bentuk aksesoris rumah tangga, seperti magnet aksesoris kulkas, mainan anak-anak, white board, jam dinding,dan lain-lain. Magnet ini kekuatannya relatif kecil dan kemampuan terapinya sangat lemah dan tidak dianjurkan untuk digunakan dalam terapi magnet. Harganya murah dan warnanya hitam. magnet ini adalah magnet paling rendah tingkatannya.


2. Alnico

Jenis magnet ini dapat ditemukan di dalam alat-alat motor (kipas angin, speaker, mesin motor), juga sering dijumpai dalam perkakas rumah tangga, mainan anak-anak,dan lain-lain. Magnet ini juga sering dijumpai dalam lab sekolahan bahkan juga dapat ditemukan pada sepatu kuda yang berfungsi untuk meningkatkan daya lari kuda. Magnet ini kekuatannya relatif sedang dan kemampuan terapinya sangat lemah dan tidak dianjurkan untuk digunakan dalam terapi magnet. Harganya murah, magnet ini adalah magnet yang masih termasuk kategori berenergi rendah.

3. Samarium Cobalt (SmCo)

Jenis magnet ini dapat ditemukan di dalam alat-alat elektronik seperti VCD, DVD, VCR Player, Handphone, dan banyak lagi. Magnet ini kekuatannya relatif kuat dan kemampuan terapinya biasa saja, jarang digunakan dalam terapi magnet pada umumnya. Harganya cukup mahal. magnet ini adalah magnet yang termasuk kategori berenergi sedang.

4. Neodymium Iron Boron (NdFeB or NIB)

Jenis magnet ini dikenal juga dengan sebutan “King Of Magnet” yaitu raja dari segala magnet permanent yang kita sebut tadi baik dari segi kekuatan magnet, daya terapi, harga, dan manfaat dalam membantu memulihkan kesehatan tubuh manusia. Magnet ini sangat terkenal diberbagai bidang kesehatan baik secara fisiotherapy dan pengobatan alternatif, juga digunakan oleh rumah sakit-rumah sakit (seperti MRI), dan terapi magnet dalam pakar fisiotherapy. Magnet ini sangat dianjurkan untuk kebutuhan terapi karena memiliki energi yang sangat kuat.

  1. B.     Elektromagnet

Merupakan magnet yang terbuat dari bahan ferromagnetik yang jika diberikn arus listrik maka bahan tersebut akanmenjadi magnet, tetapi jika pemberian arus listrik di hentikan, maka sifat magnet pada bahan tersebut akan hilang

Elektromagnet adalah prinsip pembangkitan magnet dengan menggunakan arus listrik. Aplikasi praktisnya kita temukan pada motor listrik, speaker, relay dsb. Sebatang kawat yang diberikan listrik DC arahnya meninggalkan kita (tanda silang), maka disekeliling kawat timbul garis gaya magnet melingkar, lihat gambar 1.2 Sedangkan gambar visual garis gaya magnet didapatkan dari serbuk besi yang ditaburkan disekeliling kawat beraliran listrik, seperti gambar di bawah ini.

Gb.1.2 Sifat elektromagnetik

Sebatang kawat pada posisi vertikal diberikan arus listrik DC searah panah, maka arus menuju keatas arah pandang (tanda titik). Garis gaya magnet yang membentuk selubung berlapis lapis terbentuk sepanjang kawat. Garis gaya magnet ini tidak tampak oleh mata kita, cara melihatnya dengan serbuk halus besi atau kompas yang didekatkan dengan kawat penghantar tsb. Kompas menunjukkan bahwa arah garis gaya sekitar kawat melingkar. Arah medan magnet disekitar penghantar sesuai arah putaran sekrup (James Clerk Maxwell, 1831-1879). arah arus kedepan (meninggalkan kita) maka arah medan magnet searah putaran sekrup kekanan. Sedangkan bila arah arus kebelakang (menuju kita) maka arah medan magnet adalah kekiri.

Gb.1.3 Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus.

Gb. 1.4 Prinsip putaran sekrup

Aturan sekrup mirip dengan hukum tangan kanan yang menggenggam, dimana arah ibu jari menyatakan arah arus listrik mengalir pada kawat. Maka keempat arah jari menyatakan arah dari garis gaya elektromagnet yang ditimbulkan.
Arah aliran arus listrik DC pada kawat penghantar menentukan arah garis gaya elektromagnet. Arah arus listrik DC menuju kita (tanda titik pada penampang kawat), arah garis gaya elektromagnet melingkar berlawanan arah jarum jam. Ketika arah arus listrik DC meninggalkan kita (tanda silang penampang kawat), garis gaya elektromagnet yang ditimbulkan melingkar searah dengan jarum jam (sesuai dengan model mengencangkan sekrup). Makin besar intensitas arus yang mengalir semakin kuat medan elektro-magnet yang mengelilingi sepanjang kawat tersebut.

Gb.1.5  Elektromagnetik sekeliling kawat.

Elektromagnet pada Belitan Kawat

Jika sebuah kawat penghantar berbentuk bulat dialiri arus listrik I sesuai arah panah, maka disekeliling kawat timbul garis gaya magnet yang arahnya secara gabungan membentuk kutub utara dan kutub selatan. Makin besar arus listrik yang melewati kawat, maka akan semakin kuat medan elektromagnetik yang ditimbulkannya.

Gb.1.6 Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet

Jika beberapa belitan kawat digulungkan membentuk sebuah coil atau lilitan, dan kemudian dipotong secara melintang maka arah arus ada dua jenis. Kawat bagian atas bertanda silang (meninggalkan kita) dan kawat bagian bawah bertanda titik (menuju kita).

Gb.1.7 Belitan kawat membentuk kutub magnet.

Pengujian Benda Kerja dengan metode Magnetic particle inspection ( MPI )

            Magnetic particle inspection merupakan suatu cara untuk mengetahui adanya retak atau cacat yang ada di permukaan (surface atau sub surface discontinuitas)  pada bahan-bahan ferromagnetic. Prinsip kerja pengujian ini didasarkan pada sifat benda-benda ferromagnetic yang akan memberikan kutub-kutub magnet jika benda tersebut di magnetisasi, adanya kutub magnet itu akan menyebabkan timbulnya aliran medan magnet dari kutub utara ke kutub selatan. Jika terdapat cacat pada benda uji maka cacat tersebut akan menyebabkan timbulnya medan magnet baru, jika cacatnya terletak tegak lurus terhadap arah medan magnet.

Dengan menggunakan metode ini, cacat permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) suatu komponen dari bahan ferromagnetik dapat diketahui. Prinsipnya adalah dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji. Adanya cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan menyebabkan kebocoran medan magnet. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya cacat pada material. Cara yang digunakan untuk memdeteksi adanya kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan partikel magnetik dipermukaan. Partikel-partikel tersebuat akan berkumpul pada daerah kebocoran medan magnet.

Gb. 1.8 Skema metode Magnetic particle inspection

Magnetic Testing (MT) / Magnetic Particle Inspection (MPI) digunakan untuk mendeteksi cacat / diskontinuitas las-lasan yang berada di permukaan (suface) dan di bawah permukaan (sub-surface) dengan kedalaman plus minus 2 mm. Cara kerjanya dengan menggunakan alat yang disebut Yoke yang didalamnya berisi kumparan / coil yang apabila dialiri arus listrik akan menghasilkan medan magnet yang fungsinya nanti menarik keluar magnetic flux pada benda uji. Dimana flux line yang berada pada cacat benda uji akan berpendar (stray) dan menjadi magnetic attractive poles North dan South. Sehingga menimbulkan medan magnet dan keberadaan cacat pun bisa terbaca dari sini.

Inspeksi Partikel Magnetik (MPI) digunakan untuk mendeteksi cacat permukaan dan dekat-permukaan bahan ferromagnetic. Sebuah medan magnet diterapkan untuk spesimen, baik lokal atau keseluruhan, menggunakan magnet permanen, elektromagnet, kabel fleksibel atau genggam prods. Jika bahan tersebut adalah suara, sebagian besar fluks magnet terkonsentrasi di bawah permukaan material. Namun, jika cacat hadir, seperti yang berinteraksi dengan medan magnet, fluks terdistorsi lokal dan ‘kebocoran’ dari permukaan spesimen di wilayah cacat. Partikel magnetik Fine, diaplikasikan pada permukaan spesimen, tertarik ke daerah kebocoran fluks, menciptakan indikasi terlihat cacat. Bahan yang umum digunakan untuk tujuan ini adalah partikel besi oksida besi hitam dan merah atau kuning. Dalam beberapa kasus, partikel-partikel besi yang dilapisi dengan bahan fluorescent memungkinkan mereka untuk dilihat di bawah lampu UV dalam kondisi gelap.

Partikel magnetik biasanya digunakan sebagai suspensi dalam air atau parafin. Hal ini memungkinkan partikel untuk mengalir di atas permukaan dan untuk bermigrasi ke setiap kekurangan. Pada permukaan yang panas, atau dimana kontaminasi adalah kekhawatiran, serbuk kering dapat digunakan sebagai alternatif untuk tinta basah. Pada permukaan gelap, lapisan tipis cat putih biasanya diterapkan, untuk meningkatkan kontras antara latar belakang dan partikel-partikel magnetik hitam. Teknik yang paling sensitif, bagaimanapun, adalah menggunakan partikel fluoresen dilihat dalam UV (hitam) cahaya.

MPI sangat sensitif terhadap permukaan-melanggar atau retak dekat-permukaan, bahkan jika pembukaan retak sangat sempit. Namun, jika retak berjalan sejajar dengan medan magnet, ada sedikit gangguan medan magnet dan tidak mungkin bahwa retak akan terdeteksi. Untuk alasan ini disarankan bahwa permukaan pemeriksaan magnetised dalam dua arah pada 90 ° satu sama lain. Atau, teknik menggunakan berayun atau memutar medan magnet dapat digunakan untuk memastikan bahwa semua orientasi retak yang terdeteksi.

Metode magnet tergantung pada geometri komponen dan apakah atau tidak semua atau hanya sebagian dari spesimen yang akan magnetised. magnet permanen yang menarik untuk pemeriksaan di lokasi, karena mereka tidak membutuhkan catu daya. Namun, mereka cenderung hanya digunakan untuk memeriksa daerah yang relatif kecil dan harus ditarik dari permukaan uji. Meskipun membutuhkan catu daya mereka sendiri, elektromagnet (belenggu) menemukan aplikasi luas. daya tarik utama mereka adalah bahwa mereka mudah untuk menghilangkan (setelah saat ini telah dimatikan) dan bahwa kekuatan medan magnet dapat bervariasi. Sebagai contoh, sebuah elektromagnet AC dapat digunakan untuk berkonsentrasi lapangan pada permukaan tempat yang membutuhkan. Dipegang tangan listrik prods berguna dalam ruang terbatas. Namun, mereka menderita dua kerugian besar yang dapat menyingkirkan penggunaannya sama sekali. Pertama, pemogokan busur dapat terjadi di prod titik kontak dan ini dapat merusak permukaan spesimen. Kedua, karena partikel harus diterapkan ketika saat aktif, inspeksi operasi menjadi dua orang. unit Bench adalah tetap instalasi digunakan untuk menguji sejumlah besar spesimen diproduksi berbagai ukuran. Komponen listrik unit mobile (seperti yang dijelaskan di atas) yang tergabung dalam unit bangku membuat pengujian lebih cepat, nyaman dan efisien.

Dalam beberapa kasus, MPI dapat meninggalkan sisa bidang yang kemudian mengganggu perbaikan pengelasan. Ini dapat dihilangkan dengan perlahan menyeka permukaan dengan AC yoke energi.

MPI sering digunakan untuk mencari keretakan pada sambungan las dan di daerah-daerah yang diidentifikasi sebagai rentan terhadap lingkungan retak (misalnya korosi retak tegang atau hidrogen induced cracking), kelelahan retak atau creep retak. Basah neon MPI menemukan digunakan secara luas dalam mencari kerusakan lingkungan di bagian dalam kapal.

2.1  Klafsifikasi metode MPI

2.2.1 MPI Dry Visible

Magnetik Particle Inspection Dry Visible atau Partikel magnetik kering biasanya dapat dibeli dalam banyak warna yaitu merah, hitam, abu-abu, kuning dan banyak lagi sehingga tingkat tinggi kontras antara partikel dan bagian yang sedang diperiksa dapat dicapai. Ukuran partikel magnetik juga sangat penting. Produk Partikel magnetik kering diproduksi untuk menyertakan berbagai ukuran partikel. Partikel halus adalah sekitar 50 mm (0,002 inci) dalam ukuran, dan sekitar tiga kali lebih kecil dengan diameter lebih dari 20 kali lebih ringan dari partikel kasar (150 mm atau 0.006 inci). Ini membuat mereka lebih sensitif terhadap bidang kebocoran dari diskontinuitas yang sangat kecil. Namun, pengujian partikel kering tidak bisa dibuat secara eksklusif dari partikel-partikel halus. Partikel kasar yang diperlukan untuk menjembatani diskontinuitas besar dan untuk mengurangi sifat berdebu bubuk itu. Selain itu, partikel kecil mudah melekat ke permukaan kontaminasi, seperti sisa-sisa kotoran atau uap air, dan terjebak dalam fitur kekasaran permukaan. Ini juga harus diakui bahwa partikel halus akan lebih mudah terpesona oleh angin, karena itu, kondisi berangin dapat mengurangi sensitivitas inspeksi. Selain itu, reklamasi partikel-partikel kering tidak dianjurkan karena partikel kecil cenderung ditangkap kembali dan “pernah digunakan” campuran akan menghasilkan inspeksi yang kurang sensitif.

Bentuk partikel juga berpengaruh. Bentuk yang panjang, partikel ramping cenderung menyesuaikan diri sepanjang garis gaya magnetik. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa jika serbuk kering hanya terdiri dari bentuk panjang, partikel ramping, proses aplikasi akan kurang diinginkan. Partikel memanjang berasal dari dispenser di rumpun dan kurangnya kemampuan untuk mengalir bebas dan membentuk “awan” yang diinginkan partikel mengambang pada komponen. Oleh karena itu, partikel bulat ditambahkan yang lebih pendek. Campuran hasil partikel bulat dan memanjang dalam bubuk kering yang mengalir dengan baik dan mempertahankan sensitivitas yang baik. Kebanyakan partikel kering campuran memiliki partikel dengan rasio L / D antara satu dan dua.

Salah satu keuntungan dari inspeksi partikel magnetik ini adalah memiliki beberapa metode evaluasi yaitu indikasi cacat umumnya menyerupai cacat sebenarnya. Ini tidak terjadi dengan metode NDT seperti inspeksi saat ultrasonik dan eddy, di mana sebuah sinyal elektronik harus ditafsirkan. Ketika pemeriksaan partikel magnetik digunakan, retak pada permukaan bagian muncul sebagai garis tajam yang mengikuti jalan retak. Cacat yang ada di bawah permukaan bagian yang kurang didefinisikan dan lebih sulit untuk dideteksi. Berikut adalah beberapa contoh indikasi partikel magnetik diproduksi menggunakan dry particle (partikel kering).

Gb. 1.9 Pengujian logam dengan metode Dry Visible

                 2.2.2 MPI Wet Visible

Partikel magnetik juga disertakan dalam suspensi basah seperti air atau minyak (Magnetik Particle Inspection Wet Visible). Metode pengujian partikel magnetik basah umumnya lebih sensitif daripada kering karena suspensi menyediakan partikel dengan mobilitas lebih banyak dan memungkinkan partikel yang lebih kecil untuk digunakan karena debu dan kepatuhan ke permukaan kontaminasi dikurangi atau dihilangkan. Metode basah juga membuatnya mudah untuk menerapkan partikel merata ke daerah yang relatif besar.

Metode magnetik partikel basah memiliki produk berbeda dari produk serbuk kering dalam beberapa cara. Salah satu cara adalah bahwa baik partikel terlihat dan neon yang tersedia. Kebanyakan nonfluorescent partikel oksida besi feromagnetik, yang hitam atau cokelat warna. Fluorescent partikel yang dilapisi dengan pigmen yang berpendar bila terkena sinar ultraviolet. Partikel yang berpendar hijau-kuning yang paling umum untuk mengambil keuntungan dari puncak sensitivitas warna mata tetapi warna neon lainnya juga tersedia.

Partikel digunakan dengan metode basah lebih kecil dalam ukuran daripada yang digunakan dalam metode kering karena alasan yang disebutkan di atas. Partikel biasanya 10 mm (0,0004 inci) dan lebih kecil dan oksida besi sintetis memiliki diameter partikel sekitar 0,1 mm (0,000004 inci). Ukuran sangat kecil merupakan hasil dari proses yang digunakan untuk membentuk partikel dan tidak terlalu diinginkan, karena partikel hampir terlalu halus untuk menyelesaikan keluar dari suspensi. Namun, karena magnetisme sisa sedikit, partikel oksida yang hadir sebagian besar dalam kelompok yang menyelesaikan keluar dari suspensi jauh lebih cepat dibandingkan dengan partikel individu. Hal ini memungkinkan untuk melihat dan mengukur konsentrasi partikel untuk tujuan pengendalian proses. partikel basah juga merupakan campuran ramping panjang dan partikel bulat.

Solusi pembawa dapat air atau berbasis minyak. pembawa air berbasis bentuk indikasi lebih cepat, umumnya lebih murah, hadiah kecil atau tidak ada bahaya kebakaran, tidak mengeluarkan asap petrokimia, dan lebih mudah untuk membersihkan dari bagian tersebut. solusi berbasis air biasanya dirumuskan dengan inhibitor korosi untuk menawarkan beberapa perlindungan korosi. Namun, solusi carrier berbasis minyak menawarkan perlindungan embrittlement unggul korosi dan hidrogen untuk bahan-bahan yang rentan terhadap serangan oleh mekanisme ini.

Gb. 2.0 Pengujian logam dengan metode Wet Visible

              2.2.3 MPI Wet Fluorescent

Pengujian logam dengan metode MPI Wet Flourescent pada dasarnya hampir sama dengan metode Wet visible, hanya metode ini menggunakan serbuk maget yang akan terlihat dengan sinar UV ( 20 Lux ) dan Black ight  ( 1000 Lux ).

Gb. 2.1 Pengujian logam dengan metode Wet Florescent

BAB III

METODE PENGUJIAN

3.1 Instalasi pengujian

Sebelum pengujian dengan menggunakan metode MPI ada beberapa hal yang perlu di persiapkan yaitu menguji kekuatan yoke terlebih dahlu ( Power Lifting of Yoke ) berdasarkan ASME section V Article 6 ( T-773,2 ), yaitu untuk arus AC yoke harus mampu mengangkat beban sebesar 4,5 kg ( 10 lb ) pada maximum pole sepacing-nya. Apabila yoke masih dapat mengangkat beban yang disyaratkan, maka yoke tersebut masih untuk digunakan.

3.2  Prosedur pengujian

                 3.2.1 Prosedur pengujian MPI Dry Visible

  1. Cleaning

Kondisi permukaan harus di perhatikan, permukaan harus kering dan bersih dari segala macam kotoran yang kiranya dapat mengganggu proses inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu dll.

  1. Apply AC/DC yoke

Nyalakan AC/DC yoke, lalu benda kerja mulai di magnetisasi, magnetisasi benda uji dimaksudkan agar benda uji dapat menarik serbuk ferromagnetik yang nantinya serbuk ferromagnetik tersebut akan mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.

  1. Aplikasi serbuk magnet

Aplikasi serbuk magnet disesuaikan dengan keadaan permukaan pada benda uji. Serbuk magnet yang digunakan adalah type kering

  1. Inspection

Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada benda uji. Selain itu juga dari hasil pengevalusian kita akan dapat menentukan apakah benda uji harus di perbaiki atau tidak.

  1. Demagnetisasi

Demagnetisasi dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan sisa sifat magnet yang terdapat pada benda uji agar benda uji tersebut tidak akan dapat menarik serbuk-serbuk besi yang nantinya akan menylitkan proses pembersihan.

Demagnetisasi dapat dilakukan dengan menggunakan arus AC atau DC. Jika menggunakan arus AC, benda uji dimasukan kedalam koil yan gdi aliri arus AC kemudian di turunkann perlahan-perlahan. Jika menggunakan arus DC step down bolak-balik berulang.

  1. Post cleaning

Post cleaning dimaksudkan utuk membersihkan benda uji dari sisa-sisa dari pemberian serbuk magnetik pada saat pengujian.

3.2.2        Prosedur pengujian MPI Wet Visible

  1. Cleaning

Kondisi permukaan harus di perhatikan, permukaan harus kering dan bersih dari segala macam kotoran yang kiranya dapat mengganggu proses inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu dll.

  1. Apply WCP-2

Setelah permukaan dipastikan bersih dan keringg maka dilakukan penymprotan WCP 2 secara merata. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mendeteksi adanya cacat. Karena warna dari WCP 2 lebih kontras dari pada serbuk ferromagnetik.

  1. Apply AC/DC yoke

Nyalakan AC/DC yoke, lalu benda kerja mulai di magnetisasi, magnetisasi benda uji dimaksudkan agar benda uji dapat menarik serbuk ferromagnetik yang nantinya serbuk ferromagnetik tersebut akan mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.

  1. Aplikasi serbuk magnet

Aplikasi serbuk magnet disesuaikan dengan keadaan permukaan pada benda uji. Serbuk magnet yang digunakan adalah type kering.

  1. Inspection

Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada benda uji. Selain itu juga dari hasil pengevalusian kita akan dapat menentukan apakah benda uji harus di perbaiki atau tidak.

  1. Demagnetisasi

Demagnetisasi dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan sisa sifat magnet yang terdapat pada benda uji agar benda uji tersebut tidak akan dapat menarik serbuk-serbuk besi yang nantinya akan menylitkan proses pembersihan.

Demagnetisasi dapat dilakukan dengan menggunakan arus AC atau DC. Jika menggunakan arus AC, benda uji dimasukan kedalam koil yan gdi aliri arus AC kemudian di turunkann perlahan-perlahan. Jika menggunakan arus DC step down bolak-balik berulang.

  1. Post cleaning

Post cleaning dimaksudkan utuk membersihkan benda uji dari sisa-sisa dari pemberian serbuk magnetik pada saat pengujian.

3.2.3        Prosedur Pengujian MPI Wet Fluorescent

 

  1. Cleaning

Kondisi permukaan harus di perhatikan, permukaan harus kering dan bersih dari segala macam kotoran yang kiranya dapat mengganggu proses inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu dll.

  1. Menyalakan black light
  2. Seting penerangan

Atur intensitas uv light ( 20 lux ) dan black light ( 1000 lux )

  1. Apply AC/DC yoke

Nyalakan AC/DC yoke, lalu benda kerja mulai di magnetisasi, magnetisasi benda uji dimaksudkan agar benda uji dapat menarik serbuk ferromagnetik yang nantinya serbuk ferromagnetik tersebut akan mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.

  1. Aplikasi serbuk magnet

Aplikasi serbuk magnet disesuaikan dengan keadaan permukaan pada benda uji. Serbuk magnet yang digunakan adalah type basah.

  1. Inspection

Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada benda uji. Selain itu juga dari hasil pengevalusian kita akan dapat menentukan apakah benda uji harus di perbaiki atau tidak.

  1. Demagnetisasi

Demagnetisasi dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan sisa sifat magnet yang terdapat pada benda uji agar benda uji tersebut tidak akan dapat menarik serbuk-serbuk besi yang nantinya akan menylitkan proses pembersihan.

Demagnetisasi dapat dilakukan dengan menggunakan arus AC atau DC. Jika menggunakan arus AC, benda uji dimasukan kedalam koil yan gdi aliri arus AC kemudian di turunkann perlahan-perlahan. Jika menggunakan arus DC step down bolak-balik berulang.

  1. Post cleaning

Post cleaning dimaksudkan utuk membersihkan benda uji dari sisa-sisa dari pemberian serbuk magnetik pada saat pengujian.

BAB IV

ANLISIS HASIL PENGUJIAN

 

4.1 Sketsa hasil pengujian

4.2 Analisa jenis Cacat

            Berdasarkan data yang didapat setelah melakukan praktikkum dengan menggunakan tiga metode pengujian MPI dapat di simpulkan bahwa cacat yang terdapat pada Las-an kedua acarah cacat Retakan ( Crack )

Gb .2.2 Cacat retakan pada Las-an

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dalam pengujian sebauah Benda kerja bisa dilakukan dengan dua cara yang pertama adalah Destructive Testing ( pengujian merusak ) pengujian menggunakan cara ini biasanya digunakan untuk mengetahui seberapa kuat benda kerja tersebut bisa menahan energi yang di berikan. Pengujian yang kedua adalah Non Destructive Testing ( pengujian tidak merusak ) pengujian menggunakan cara ini untuk mengetahui ada tidakny cacat pada benda kerja dengan pengujian tanpa merusak benda kerja tersebut. Dalam pengujian NDT banyak metode yang bisa digunakan salah satunya dengan metode Magnetic Particle Inspection. Dengan menggunakan metode ini, cacat permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) suatu komponen dari bahan ferromagnetik dapat diketahui. Prinsipnya adalah dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji. Adanya cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan menyebabkan kebocoran medan magnet. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya cacat pada material. Cara yang digunakan untuk memdeteksi adanya kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan partikel magnetik dipermukaan. Partikel-partikel tersebuat akan berkumpul pada daerah kebocoran medan magnet. Kelemahannya, metode ini hanya bisa diterapkan untuk material ferromagnetik. Selain itu, medan magnet yang dibangkitkan harus tegak lurus atau memotong daerah retak serta diperlukan demagnetisasi di akhir inspeksi. Sedangkan kelebihan dari metode ini yaitu Flexible dan mudah pengoperasian dilapangannya. Hanya saja membutuhkan ketersedian power listrik sebagai power supply untuk bisa melakukan pekerjaan MT / MPI. Dan metode MT / MPI ini digunakan terbatas hanya untuk mendeteksi cacat yang terbuka yang berada di permukaan (surface) dan sub-surfacenya saja.

 

Metode MPI diklasifikasikan menjadi 3 partikel yaitu :

  1. Magnetik Particle Inspection Dry Visible
  2. Magnetik Particle Inspection Wet Visible
  3. Magnetik Particle Inspection Wet Fluorescent

5.2  Saran

  • Banyak metode yang bisa digunakan dalam pengujian sebuah benda kerja selain menggunakan MPI, oleh karena itu mohon di realisasikan menggunakan metode lain.
  • Faktor cahaya dalam metode MPI sangat mempengaruhi hasil dari pengujian benda kerja, oleh karena itu mohon diperhatikan mengenain unsur sahaya yang terdapad di ruangan praktik.
About these ads
Komentar
  1. Agung Budianto mengatakan:

    .ijin copy kk. . ;)

  2. Anonymous mengatakan:

    ia ga pa2** tpi jgn nete lagi ya

  3. Anonymous mengatakan:

    ijin copy ya ‘A…buat belajar…

  4. Zaki mengatakan:

    semoga bermanfaat, ijin copy ya…..trims

  5. bebas hutang mengatakan:

    Pretty section of content. I simply stumbled upon your blog and in accession capital to claim that I get in fact loved account your blog posts. Anyway I’ll be subscribing in your augment or even I success you access consistently fast.

  6. ren mengatakan:

    ijin copy ya kang

  7. Adi Purnama mengatakan:

    aduh mas…..hatur nuhun pisan ya mas….

  8. Anonymous mengatakan:

    gan soft copinya tolong kirim ke email saya dong arif_cahya123@yahoo.co.id
    kalo ada skalian pengujian” ndt yang lainnya… tolon gan ane lagi butuh tentang ndt…!

  9. PIKSU mengatakan:

    IJIN SEDOOTT BANG… :D

  10. Anonymous mengatakan:

    berguna juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s